Sutradara Perempuan Kinne Komunikasi Tampilkan Film "Pinta Maaf" dalam Studi Banding di Malang

Penulis oleh Devi Citra Lestari

Editor oleh Wibiana Putri Rachmadani

Sesi Screening Film Pinta Maaf di Studi Banding Teras (Foto: Devi Citra Lestari)

SURABAYA – TERAS (Temu Bareng Sineas), merupakan kegiatan studi banding antara Kinne Komunikasi dengan komunitas Nol Derajat Universitas Brawijaya yang menghadirkan sesi screening karya mahasiswa di Malang. Salah satu film yang mencuri perhatian adalah Pinta Maaf, karya sutradara perempuan Elian Angkasa.

Film tersebut menjadi representasi dari berkembangnya peran perempuan di dunia perfilman mahasiswa, khususnya di lingkungan Kinne Komunikasi. Melalui karya ini, Elian Berhasil menghadirkan cerita yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga memiliki kedalaman emosional.

Dalam sesi diskusi setelah screening, Elian menjelaskan bahwa film Pinta Maaf berawal dari program Garfil (Garap Film), sebuah proyek produksi film di Kinne yang mengharuskan setiap sutradara melakukan pitching ide.

“Awalnya dari Garfil, konsepnya kami harus pitching dan idenya bakal dikurasi sama panitia, dipilih yang sekiranya bagus. Setelah itu, ketika terpilih, baru akan dilakukan pemilihan kru dan produksi filmnya,” ujarnya.

Proses pitching juga dilakukan kepada pihak distribusi, sekaligus menjadi kesempatan untuk menjalin komunikasi dengan aktor utama, Afrian Arisandy. Setelah melalui tahap tersebut, produksi dilanjutkan bersama tim Kinne Komunikasi.

 
Potret Afrian dan Romy dalam syutingan Film Pinta Maaf (Foto: Devi Citra Lestari)

Bukan sekadar cerita fiksi, Pinta Maaf berangkat dari kisah nyata yang dekat dengan kehidupan sang sutradara. Sejak awal, Elian telah membayangkan sosok ayahnya sebagai karakter utama.

“Dialog terakhir di film, bagian ketika ayah meminta maaf, itu sebenarnya adalah kalimat yang benar-benar pernah saya dengar. Jadi rasanya sangat personal, karena ketika Pak Afrian mengucapkan itu, rasanya saya kembali ke masa di mana ayah minta maaf ke saya,” Ujarnya.

Kedekatan emosional ini membuat film terasa lebih hidup dan relatable bagi penonton. Elian sendiri berharap setiap anak yang merasakan hal yang sama bisa segera mendapat permintaan maaf dari orang yang mereka harapkan. 


Potret Afrian Membaca Script dalam Syutingan Pinta Maaf (Foto: Devi Citra Lestari)

Dari sisi produksi, film  ini dikerjakan dalam waktu sekitar satu bulan. Namun, jika dihitung dari awal pengembangan hingga distribusi, prosesnya memakan waktu kurang lebih enam bulan sejak Agustus.

Tantangan terbesar muncul saat penjadwalan dengan aktor utama. Saat itu, Afrian Arisandy Tengah terlibat dalam proyek lain, termasuk film Laut Bercerita.

Selain itu, Tim juga sempat mempertimbangkan aspek biaya produksi. Namun, berkat komunikasi yang baik dan dukungan tim, proyek ini tetap berjalan. Bahkan, sang aktor akhirnya bersedia terlibat sebagai bentuk dukungan terhadap karya mahasiswa.


Infografis Proses pembuatan Film Pinta Maaf




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suasana Tempo Dulu, Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari Gunakan Keping Kayu

Pesona Klasik nan Modern: Rahasia Kehangatan Malam Jumat bagi Sang Pencari Berkah

Pendaftaran GenBI 2026 UPNVJT Ditutup, Ratusan Mahasiswa Mendaftar dan Lolos Tahap 1