Pesona Klasik nan Modern: Rahasia Kehangatan Malam Jumat bagi Sang Pencari Berkah
Penulis oleh Amorita Azzahra
Editor oleh Devi Citra Lestari
| Halaman Depan Masjid Ampel, 2 April 2026 (Amorita Azzahra/queensmedia.com) |
SURABAYA – Di bawah pendar lampu kuning yang hangat dan semilir angin malam yang membawa aroma harum gaharu, kawasan Wisata Religi Ampel seolah membisikkan cerita lama yang tak pernah usai. Bagi warga Surabaya, Kamis malam bukan sekadar pergantian hari, melainkan sebuah ritual "pulang" ke ruang spiritual yang menenangkan.
Malam Jumat di Ampel kini tampil dengan wajah baru. Perpaduan antara arsitektur klasik yang sakral dengan sentuhan modernitas pasca-revitalisasi, menjadikan tempat ini magnet bagi siapa pun mulai dari peziarah sepuh hingga anak muda yang mencari keteduhan di tengah riuhnya kota.
Saksi Bisu Perjalanan 27 Tahun
Di salah satu sudut masjid yang tenang, kami bertemu dengan Pak Rahmat. Sosok hangat ini telah mendedikasikan hidupnya selama 27 tahun sebagai marbot, menjaga setiap jengkal kesucian Masjid Ampel. Dengan senyum tulus, beliau mengenang bagaimana wajah Ampel bertransformasi.
"Dulu, gedung yang sekarang dipakai untuk Shalat Jumat itu belum ada. Fasilitasnya sangat sederhana. Sekarang, alhamdulillah semua sudah direnovasi menjadi lebih bagus dan nyaman, termasuk area makam Sunan Ampel dan adanya gedung pertemuan," kenang Pak Rahmat.
Namun, di balik kemegahan itu, Pak Rahmat menitipkan sebuah pesan lembut untuk generasi muda. Beliau menyadari bahwa kini Ampel menjadi tempat favorit untuk berkumpul, atau yang sering disebut anak muda sebagai 'Ampel Date'.
"Sekarang memang banyak sekali anak muda yang datang. Tentu senang melihatnya, namun alangkah indahnya jika keramaian ini tetap dibarengi dengan niat yang tulus untuk beribadah dan menjaga adab. Kesucian tempat ini adalah prioritas kita bersama agar ketenangannya tetap terjaga," ungkapnya dengan bahasa yang sangat santun.
| Suasana Makam Sunan Ampel, 2 April 2026 (Amorita Azzahra/queensmedia.com) |
Ketulusan di Balik Kebersihan
Kehangatan Ampel tak lepas dari tangan-tangan ikhlas para pahlawan di balik layar. Salah satunya adalah Pak Sholeh, petugas kebersihan yang tetap sigap menyapu di sela-sela langkah peziarah. Bersama sekitar 20 orang pasukan kebersihan lainnya, Pak Sholeh memastikan area suci ini tetap cantik dipandang.
"Bagi saya, menyapu di sini bukan sekadar kerja, tapi juga mengabdi. Ada rasa bahagia tersendiri melihat peziarah bisa duduk dengan nyaman karena lantainya bersih," tuturnya. Pak Sholeh juga menambahkan bahwa pengunjung sekarang mulai lebih peduli pada kebersihan, meski tantangan sampah plastik masih sering ditemui saat malam puncak seperti Malam Jumat Legi.
Ruang "Healing" Spiritual yang Estetik
Bagi pengunjung seperti Arini, seorang mahasiswi yang kami temui di area selasar, Ampel adalah tempat healing terbaik. Ia mengenang masa kecilnya saat diajak sang nenek ke sini.
"Dulu ingatnya Ampel itu padat dan agak gelap. Sekarang? Wah, estetik sekali! Lampu-lampunya cantik, pavingnya rapi, tapi rasa 'tenang' dan magisnya tetap sama. Area favoritku tentu saja deretan gapura kuno itu, sangat ikonik untuk difoto tapi tetap terasa sakralnya," cerita Arini dengan mata berbinar.
Bagi Arini dan ribuan perempuan lainnya, "ketenangan" di Ampel adalah saat mereka bisa duduk bersimpuh, melepaskan penat duniawi, dan merasakan pelukan spiritual yang hangat sebelum kembali menghadapi rutinitas esok hari.
Ampel hari ini adalah sebuah harmoni. Ia tetap menjaga akar sejarahnya yang klasik, sembari membuka diri pada modernitas yang manis. Sebuah pelarian indah bagi para pencari berkah di jantung Kota Surabaya.
| Infografis Sejarah Ampel |
Komentar
Posting Komentar