Kelompok Tani Kosagrha Lestari Hadirkan Kebun Hidroponik di Tengah Kota Surabaya
Penulis: Linggar Apritataqwa Giandivari
Editor: Erlinda Novia Wulandari
![]() |
| Kosagrha Lestari |
Surabaya - Di tengah padatnya kehidupan kota seperti Surabaya, keberadaan kebun sayur mungkin bukan pemandangan yang umum. Deretan bangunan, jalan raya yang ramai, dan aktivitas perkotaan yang tak pernah berhenti sering kali membuat orang berpikir bahwa berkebun hanya mungkin dilakukan di desa atau wilayah pinggiran kota. Namun, di salah satu sudut Medayu Selatan, sekelompok warga justru membuktikan hal sebaliknya.
Melalui Kelompok Tani Kosagrha Lestari, warga memanfaatkan lahan yang sebelumnya terbengkalai untuk menanam berbagai jenis sayuran dengan metode hidroponik. Dulunya lahan ini hanya dipenuhi semak liar dan tidak pernah dimanfaatkan, kini menjadi kebun kecil yang hijau dan hidup hadir sebagai oase segar di tengah padatnya lingkungan organisasi kota.
Ketua Kelompok Tani Kosagrha Lestari, Ibu Pridha menjelaskan bahwa pengajaran berkebun ini berawal dari kepedulian warga terhadap lahan kosong di lingkungan mereka. Ia mengatakan, warga merasa sayang jika lahan tersebut terus dibiarkan tanpa manfaat. “Awalnya lahan ini kosong dan dipenuhi semak-semak. Warga kemudian berinisiatif membersihkannya bersama-sama. Dari situ muncul ide untuk memanfaatkan lahan ini menjadi kebun urban farming yang bisa bermanfaat bagi lingkungan,” ujar Ibu Pridha.
Setelah lahan dibersihkan, warga mulai mencari metode pertanian yang paling memungkinkan diterapkan di kawasan perkotaan. Dengan kondisi lahan yang terbatas dan tidak semuanya berupa tanah pinggiran kota, mereka akhirnya memilih metode hidroponik sebagai solusi. Menurut Ibu Pridha, metode hidroponik dianggap lebih praktis dan sangat cocok diterapkan di lingkungan perkotaan. Selain tidak memerlukan tanah sebagai media tanam, sistem ini juga memungkinkan tanaman tumbuh dengan memanfaatkan aliran udara yang telah dicampur dengan nutrisi.
“Kami memilih metode hidroponik karena tidak membutuhkan tanah dan cocok untuk wilayah perkotaan yang lahannya terbatas. Selain itu, sayuran yang dihasilkan juga lebih bersih dan perawatannya relatif mudah,” jelas Ibu Pridha.
Kini berbagai jenis sayuran tumbuh di kebun tersebut, mulai dari selada, pakcoy, bayam, hingga kangkung. Tanaman tumbuh dengan memanfaatkan aliran air yang telah dicampur larutan nutrisi.
Keberadaan di kebun ini tidak hanya menghasilkan sayuran segar, tetapi juga menghadirkan suasana berbeda di lingkungan tengah perkotaan. Di sela kesibukan kota, warga masih menyisihkan waktu untuk merawat tanaman, memeriksa aliran nutrisi, hingga menghasilkan hasil bersama. Sebagian hasil panen dimanfaatkan oleh warga sekitar, sementara sebagian lainnya dipasarkan kepada masyarakat. Selain membantu memenuhi kebutuhan sayuran segar, kegiatan ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok.
Di sisi lain, kebun hidroponik tersebut juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat yang tertarik mencoba menyesuaikan tanam di lingkungan perkotaan. Warga yang datang dapat melihat langsung proses penanaman, mulai dari penyemaian bibit hingga panen sayuran.
Melalui kegiatan ini, warga berharap semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa keterbatasan lahan bukanlah halangan untuk menghasilkan pangan yang sehat. Bahkan di tengah kota besar sekalipun, ruang kecil masih bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran yang segar dan aman dikonsumsi. “Kami berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik mencoba hidroponik. Dengan begitu, masyarakat bisa menanam sendiri sayuran sehat sekaligus memanfaatkan lahan yang ada,” kata Ibu Pridha.
Kini di tengah padatnya kehidupan kota, kebun hidroponik ini menjadi bukti bahwa semangat warga untuk menjaga lingkungan dan menghasilkan pangan sendiri tetap tumbuh. Di antara beton dan kesibukan kota, ruang hijau kecil itu menjadi pengingat bahwa berkebun masih mungkin dilakukan, bahkan di tengah kota besar seperti Surabaya.
![]() |
| Infografis proses tanaman hidroponik |


.png)
Komentar
Posting Komentar