Di Balik Bunga Duka, Penjual Bertahan Menghidupi Harapan Sehari-Hari
Penulis oleh Shofiyyah
Editor oleh Luthfiisya Prasetya
Surabaya— Di kawasan TPU Kalianak Jl. Demak, atau yang juga dikenal sebagai Makam Mbah Ratu, aktivitas tidak hanya diisi oleh peziarah yang datang membawa doa.
Di tempat yang lekat dengan suasana duka ini, para penjual bunga menggantungkan
hidup dari setiap kantong bunga tabur yang mereka jual setiap hari.
Sri Sinis
Jawati menjadi salah satu penjual yang telah bertahan lebih dari 10 tahun.
Sejak pagi hingga menjelang magrib, ia setia menunggu pembeli di sekitar area
makam. Usaha ini dijalaninya sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari.
Dalam
kesehariannya, Sri bisa menjual lebih dari seratus kantong bunga. Namun, jumlah
tersebut tidak selalu pasti. Ada kalanya dagangan laris, tetapi tidak jarang
pula ia harus pulang tanpa membawa hasil sama sekali.
Kondisi
ini dipengaruhi oleh momen tertentu yang menentukan ramainya pembeli. Menjelang
Lebaran atau saat malam Jumat Kliwon, jumlah peziarah meningkat. Pada saat
itulah, penjualan bunga bisa melonjak hingga menghasilkan jutaan rupiah dalam
sehari.
Berbeda
dengan hari-hari biasa yang cenderung sepi, Sri tetap menjalani rutinitasnya
dengan penuh kesabaran. Ketidakpastian menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai
penjual bunga di area pemakaman.
Sejalan
dengan Sri, Sadiyah juga telah lama menjalani usaha serupa. Ia telah berjualan
selama kurang lebih 25 tahun sejak usia muda. Awalnya, ia melihat peluang
karena belum banyak penjual bunga di sekitar pintu masuk makam.
Seiring
berjalannya waktu, usaha tersebut terus ia tekuni hingga sekarang.
Pengalamannya selama puluhan tahun membuatnya memahami pola pembeli yang
datang. Ia juga mengetahui waktu-waktu tertentu yang membawa rezeki lebih
besar.
Sejalan
dengan pengalamannya tersebut, Sadiyah mengungkapkan bahwa kondisi penjualan
bunga sangat bergantung pada momen tertentu. “Kalau hari puasa memang sepi,
tapi kalau hari Kamis atau mendekati Lebaran bisa ramai sekali. Saya mulai
jualan ini sejak umur tujuh belas tahun dan sampai sekarang masih bertahan,”
ungkapnya.
Jenis
bunga yang dijual pun beragam dan dikenal sebagai bunga tujuh rupa. Mawar,
melati, kenanga, kantil, dan sedap malam menjadi pilihan utama. Bunga-bunga
tersebut digunakan sebagai simbol penghormatan dan doa bagi orang yang telah
meninggal.
Proses
penyiapan bunga dilakukan setiap hari sejak pagi. Para penjual harus memastikan
bunga tetap segar agar layak digunakan. Biasanya, bunga disimpan dalam wadah
berisi air agar tidak cepat layu hingga sore hari.
Jika
tidak habis terjual, bunga tersebut akan kembali dijual keesokan harinya. Cara
ini dilakukan untuk mengurangi kerugian. Hal tersebut menjadi bagian dari
strategi sederhana dalam mempertahankan usaha.
Di balik
aktivitas tersebut, tantangan terbesar yang dihadapi adalah sepinya pembeli.
Sri mengaku bahwa tidak jarang ia mengalami hari tanpa pemasukan sama sekali.
Kondisi ini menjadi ujian tersendiri bagi keberlangsungan usahanya.
Sri Sinis
Jawati juga mengungkapkan pengalaman serupa terkait kondisi penjualan yang
tidak menentu. “Iya, kadang sering sepi, bahkan pernah satu hari tidak ada yang
beli sama sekali. Tapi kalau sedang ramai, bisa sampai ratusan kantong
terjual,” ujarnya.
Meski
demikian, para penjual bunga tetap bertahan dengan harapan akan datangnya hari
yang lebih baik. Mereka menggantungkan harapan pada momen-momen tertentu yang
mampu meningkatkan penjualan.
Selain
itu, interaksi dengan pembeli juga menjadi bagian dari keseharian mereka.
Meskipun tidak banyak percakapan, kehadiran para peziarah tetap memberikan
makna tersendiri. Aktivitas ini menjadi bagian dari rutinitas yang terus
dijalani.
Bagi
mereka, bunga bukan sekadar barang dagangan. Setiap kantong bunga yang terjual
membawa nilai tradisi dan penghormatan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya ziarah
masih hidup di tengah masyarakat.
Ke depan,
para penjual berharap usaha ini dapat terus berjalan dengan lebih baik. Mereka
ingin penjualan semakin meningkat dan kondisi ekonomi menjadi lebih stabil.
Di tengah suasana duka yang menyelimuti kawasan makam, para penjual bunga tetap bertahan. Dengan kesederhanaan dan ketekunan, mereka menjalani hidup dari bunga-bunga yang menjadi perantara doa.

.png)
Komentar
Posting Komentar