Di Balik Bunga Duka, Penjual Bertahan Menghidupi Harapan Sehari-Hari

Penulis oleh Shofiyyah 

Editor oleh Luthfiisya Prasetya




TPU Kalianak Jl. Demak, 22 Maret 2026 
(Shofiyyah/queensmedia.com)

Surabaya— Di kawasan TPU Kalianak Jl. Demak, atau yang juga dikenal sebagai Makam Mbah Ratu, aktivitas tidak hanya diisi oleh peziarah yang datang membawa doa. Di tempat yang lekat dengan suasana duka ini, para penjual bunga menggantungkan hidup dari setiap kantong bunga tabur yang mereka jual setiap hari.

Sri Sinis Jawati menjadi salah satu penjual yang telah bertahan lebih dari 10 tahun. Sejak pagi hingga menjelang magrib, ia setia menunggu pembeli di sekitar area makam. Usaha ini dijalaninya sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dalam kesehariannya, Sri bisa menjual lebih dari seratus kantong bunga. Namun, jumlah tersebut tidak selalu pasti. Ada kalanya dagangan laris, tetapi tidak jarang pula ia harus pulang tanpa membawa hasil sama sekali.

Kondisi ini dipengaruhi oleh momen tertentu yang menentukan ramainya pembeli. Menjelang Lebaran atau saat malam Jumat Kliwon, jumlah peziarah meningkat. Pada saat itulah, penjualan bunga bisa melonjak hingga menghasilkan jutaan rupiah dalam sehari.

Berbeda dengan hari-hari biasa yang cenderung sepi, Sri tetap menjalani rutinitasnya dengan penuh kesabaran. Ketidakpastian menjadi bagian dari pekerjaannya sebagai penjual bunga di area pemakaman.

Sejalan dengan Sri, Sadiyah juga telah lama menjalani usaha serupa. Ia telah berjualan selama kurang lebih 25 tahun sejak usia muda. Awalnya, ia melihat peluang karena belum banyak penjual bunga di sekitar pintu masuk makam.

Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut terus ia tekuni hingga sekarang. Pengalamannya selama puluhan tahun membuatnya memahami pola pembeli yang datang. Ia juga mengetahui waktu-waktu tertentu yang membawa rezeki lebih besar.

Sejalan dengan pengalamannya tersebut, Sadiyah mengungkapkan bahwa kondisi penjualan bunga sangat bergantung pada momen tertentu. “Kalau hari puasa memang sepi, tapi kalau hari Kamis atau mendekati Lebaran bisa ramai sekali. Saya mulai jualan ini sejak umur tujuh belas tahun dan sampai sekarang masih bertahan,” ungkapnya.

Jenis bunga yang dijual pun beragam dan dikenal sebagai bunga tujuh rupa. Mawar, melati, kenanga, kantil, dan sedap malam menjadi pilihan utama. Bunga-bunga tersebut digunakan sebagai simbol penghormatan dan doa bagi orang yang telah meninggal.

Proses penyiapan bunga dilakukan setiap hari sejak pagi. Para penjual harus memastikan bunga tetap segar agar layak digunakan. Biasanya, bunga disimpan dalam wadah berisi air agar tidak cepat layu hingga sore hari.

Jika tidak habis terjual, bunga tersebut akan kembali dijual keesokan harinya. Cara ini dilakukan untuk mengurangi kerugian. Hal tersebut menjadi bagian dari strategi sederhana dalam mempertahankan usaha.

Di balik aktivitas tersebut, tantangan terbesar yang dihadapi adalah sepinya pembeli. Sri mengaku bahwa tidak jarang ia mengalami hari tanpa pemasukan sama sekali. Kondisi ini menjadi ujian tersendiri bagi keberlangsungan usahanya.

Sri Sinis Jawati juga mengungkapkan pengalaman serupa terkait kondisi penjualan yang tidak menentu. “Iya, kadang sering sepi, bahkan pernah satu hari tidak ada yang beli sama sekali. Tapi kalau sedang ramai, bisa sampai ratusan kantong terjual,” ujarnya.

Meski demikian, para penjual bunga tetap bertahan dengan harapan akan datangnya hari yang lebih baik. Mereka menggantungkan harapan pada momen-momen tertentu yang mampu meningkatkan penjualan.

Selain itu, interaksi dengan pembeli juga menjadi bagian dari keseharian mereka. Meskipun tidak banyak percakapan, kehadiran para peziarah tetap memberikan makna tersendiri. Aktivitas ini menjadi bagian dari rutinitas yang terus dijalani.

Bagi mereka, bunga bukan sekadar barang dagangan. Setiap kantong bunga yang terjual membawa nilai tradisi dan penghormatan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya ziarah masih hidup di tengah masyarakat.

Ke depan, para penjual berharap usaha ini dapat terus berjalan dengan lebih baik. Mereka ingin penjualan semakin meningkat dan kondisi ekonomi menjadi lebih stabil.

Di tengah suasana duka yang menyelimuti kawasan makam, para penjual bunga tetap bertahan. Dengan kesederhanaan dan ketekunan, mereka menjalani hidup dari bunga-bunga yang menjadi perantara doa.



Infografis Proses Penjualan Bunga di Kawasan TPU Kalianak

 

 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suasana Tempo Dulu, Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari Gunakan Keping Kayu

Pesona Klasik nan Modern: Rahasia Kehangatan Malam Jumat bagi Sang Pencari Berkah

Pendaftaran GenBI 2026 UPNVJT Ditutup, Ratusan Mahasiswa Mendaftar dan Lolos Tahap 1