Lebaran Tanpa Pulang, Mahasiswa Perantau Menyimpan Rindu di Surabaya
Penulis oleh Shofiyyah
Editor oleh Luthfiisya Prasetya
Surabaya
– Di tengah momen hangat menjelang Lebaran, saat banyak orang bersiap pulang
dan berkumpul bersama keluarga, mahasiswa perantau di UPN “Veteran” Jawa Timur
justru dihadapkan pada dilema. Alih-alih kembali ke kampung halaman, sebagian
dari mereka memilih tetap tinggal di Surabaya karena berbagai alasan, mulai
dari tugas kuliah, mahalnya tiket transportasi, hingga keterbatasan waktu
libur.
Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan, seperti
yang dirasakan Fathinah Najla’Islamiah, mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Bima,
mengaku telah dua tahun berturut-turut tidak pulang saat Lebaran. Ia sebenarnya
sempat memiliki keinginan untuk kembali ke kampung halaman, namun harus
mengurungkan niat karena tanggung jawab akademik yang menumpuk.
Menurutnya, tugas kuliah yang mendekati ujian
menjadi faktor utama yang membuatnya tetap bertahan di perantauan. Selain itu,
ia juga mempertimbangkan kondisi perjalanan yang harus ditempuh dengan kapal
pada malam hari, sehingga menimbulkan kekhawatiran dari pihak keluarga.
Hal serupa juga dialami oleh Lily Marisya,
mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Medan. Ia memilih tidak pulang karena harga
tiket yang melonjak dan waktu libur yang relatif singkat. Baginya, biaya
perjalanan yang tinggi tidak sebanding dengan waktu kebersamaan yang hanya
sebentar.
Selain faktor ekonomi, keterbatasan waktu juga
menjadi pertimbangan penting. Dengan jadwal kuliah dan tugas yang padat,
mahasiswa perantau harus berpikir ulang untuk meninggalkan Surabaya dalam waktu
yang singkat. Kondisi ini membuat mereka lebih memilih bertahan demi
menyelesaikan tanggung jawab akademik.
Sementara itu, Wa Ode Aulia Maharani, mahasiswi
Hubungan Internasional asal Kendari, juga memutuskan hal yang sama. Ia menilai
libur yang singkat dan banyaknya tugas membuat perjalanan pulang menjadi kurang
efektif. Selain itu, harga tiket pesawat yang tinggi semakin memperkuat
keputusannya untuk tidak mudik.
Di balik berbagai alasan tersebut, tersimpan
perasaan yang tidak mudah untuk diabaikan. Rasa rindu terhadap keluarga menjadi
hal yang paling dirasakan oleh para mahasiswa perantau saat momen Lebaran tiba.
Fathinah mengungkapkan bahwa perasaan sedih
tidak dapat dihindari ketika melihat keluarga berkumpul tanpa kehadirannya.
“Sedih sih ya, apalagi melihat keluarga kumpul tanpa aku. Tahun kemarin aku
juga sempat nangis,” ujarnya.
Perasaan serupa juga dirasakan oleh Lily,
terutama saat malam takbiran yang identik dengan kebersamaan. Ia mengaku momen
tersebut menjadi waktu yang paling berat untuk dilalui jauh dari keluarga.
“Kalau malam takbiran itu yang paling berat, aku pasti nangis. Soalnya biasanya
kumpul, sekarang sendiri,” ungkapnya.
Meski demikian, para mahasiswa tetap berusaha
menciptakan suasana Lebaran di perantauan dengan cara mereka sendiri. Berbagai
aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa rindu sekaligus menghadirkan nuansa
kebersamaan.
Fathinah, misalnya, memilih merayakan Lebaran
bersama teman-temannya dengan memasak makanan khas seperti rendang dan
mengadakan open house sederhana di kos. Ia juga tetap menjaga komunikasi
dengan keluarga melalui video call yang bahkan dilakukan selama
berjam-jam agar tetap merasakan kehangatan kebersamaan.
Lily juga memiliki cara tersendiri dalam mengisi
momen Lebaran. Ia mempersiapkan berbagai hidangan khas daerah asalnya, seperti
rendang dan lontong Medan, sebagai bentuk pengobat rindu. Selain itu, ia
mengajak teman-temannya untuk berkumpul, berbagi makanan, dan saling menguatkan
satu sama lain.
Sementara itu, Aulia mengisi hari Lebaran dengan
menjalankan salat Id sendiri, kemudian melakukan video call kepada
keluarga satu per satu. Setelah itu, ia menghabiskan waktu bersama
teman-temannya dengan berjalan-jalan, makan bersama, hingga berbagi kebahagiaan
kecil sebagai pengganti suasana kampung halaman.
Menariknya, pengalaman tidak pulang kampung ini
juga membawa perubahan dalam cara pandang mereka terhadap makna Lebaran. Bagi sebagian
mahasiswa, Lebaran tidak lagi dimaknai hanya sebagai momen berkumpul secara
fisik, tetapi juga sebagai upaya menjaga hubungan dan kebersamaan meskipun
terpisah jarak.
Mereka belajar untuk lebih mandiri, mengelola
emosi, serta menghargai waktu bersama keluarga yang sebelumnya mungkin dianggap
biasa. Pengalaman ini secara tidak langsung membentuk kedewasaan mereka dalam
menghadapi berbagai kondisi.
Di tengah keterbatasan yang ada, harapan tetap
menjadi hal yang mereka pegang. Para mahasiswa perantau berharap di masa
mendatang dapat kembali merasakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman,
tanpa terhalang oleh biaya, waktu, maupun tanggung jawab akademik.
Selain itu, mereka juga berharap harga tiket
transportasi dapat lebih terjangkau, sehingga tidak menjadi penghalang untuk
pulang. Lebaran pun diharapkan tetap menjadi momen kebersamaan yang utuh, baik
secara fisik maupun batin, bagi para mahasiswa perantau.


Komentar
Posting Komentar