Lebaran Tanpa Pulang, Mahasiswa Perantau Menyimpan Rindu di Surabaya

Penulis oleh Shofiyyah 

Editor oleh Luthfiisya Prasetya



Suasana Lebaran Mahasiswa Perantau yang Tidak Pulang Kampung, 24 Maret 2026 (Shofiyyah/queensmedia.com)

Surabaya – Di tengah momen hangat menjelang Lebaran, saat banyak orang bersiap pulang dan berkumpul bersama keluarga, mahasiswa perantau di UPN “Veteran” Jawa Timur justru dihadapkan pada dilema. Alih-alih kembali ke kampung halaman, sebagian dari mereka memilih tetap tinggal di Surabaya karena berbagai alasan, mulai dari tugas kuliah, mahalnya tiket transportasi, hingga keterbatasan waktu libur.

Keputusan ini bukan tanpa pertimbangan, seperti yang dirasakan Fathinah Najla’Islamiah, mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Bima, mengaku telah dua tahun berturut-turut tidak pulang saat Lebaran. Ia sebenarnya sempat memiliki keinginan untuk kembali ke kampung halaman, namun harus mengurungkan niat karena tanggung jawab akademik yang menumpuk.

Menurutnya, tugas kuliah yang mendekati ujian menjadi faktor utama yang membuatnya tetap bertahan di perantauan. Selain itu, ia juga mempertimbangkan kondisi perjalanan yang harus ditempuh dengan kapal pada malam hari, sehingga menimbulkan kekhawatiran dari pihak keluarga.

Hal serupa juga dialami oleh Lily Marisya, mahasiswi Ilmu Komunikasi asal Medan. Ia memilih tidak pulang karena harga tiket yang melonjak dan waktu libur yang relatif singkat. Baginya, biaya perjalanan yang tinggi tidak sebanding dengan waktu kebersamaan yang hanya sebentar.

Selain faktor ekonomi, keterbatasan waktu juga menjadi pertimbangan penting. Dengan jadwal kuliah dan tugas yang padat, mahasiswa perantau harus berpikir ulang untuk meninggalkan Surabaya dalam waktu yang singkat. Kondisi ini membuat mereka lebih memilih bertahan demi menyelesaikan tanggung jawab akademik.

Sementara itu, Wa Ode Aulia Maharani, mahasiswi Hubungan Internasional asal Kendari, juga memutuskan hal yang sama. Ia menilai libur yang singkat dan banyaknya tugas membuat perjalanan pulang menjadi kurang efektif. Selain itu, harga tiket pesawat yang tinggi semakin memperkuat keputusannya untuk tidak mudik.

Di balik berbagai alasan tersebut, tersimpan perasaan yang tidak mudah untuk diabaikan. Rasa rindu terhadap keluarga menjadi hal yang paling dirasakan oleh para mahasiswa perantau saat momen Lebaran tiba.

Fathinah mengungkapkan bahwa perasaan sedih tidak dapat dihindari ketika melihat keluarga berkumpul tanpa kehadirannya. “Sedih sih ya, apalagi melihat keluarga kumpul tanpa aku. Tahun kemarin aku juga sempat nangis,” ujarnya.

Perasaan serupa juga dirasakan oleh Lily, terutama saat malam takbiran yang identik dengan kebersamaan. Ia mengaku momen tersebut menjadi waktu yang paling berat untuk dilalui jauh dari keluarga. “Kalau malam takbiran itu yang paling berat, aku pasti nangis. Soalnya biasanya kumpul, sekarang sendiri,” ungkapnya.

Meski demikian, para mahasiswa tetap berusaha menciptakan suasana Lebaran di perantauan dengan cara mereka sendiri. Berbagai aktivitas dilakukan untuk mengurangi rasa rindu sekaligus menghadirkan nuansa kebersamaan.

Fathinah, misalnya, memilih merayakan Lebaran bersama teman-temannya dengan memasak makanan khas seperti rendang dan mengadakan open house sederhana di kos. Ia juga tetap menjaga komunikasi dengan keluarga melalui video call yang bahkan dilakukan selama berjam-jam agar tetap merasakan kehangatan kebersamaan.

Lily juga memiliki cara tersendiri dalam mengisi momen Lebaran. Ia mempersiapkan berbagai hidangan khas daerah asalnya, seperti rendang dan lontong Medan, sebagai bentuk pengobat rindu. Selain itu, ia mengajak teman-temannya untuk berkumpul, berbagi makanan, dan saling menguatkan satu sama lain.

Sementara itu, Aulia mengisi hari Lebaran dengan menjalankan salat Id sendiri, kemudian melakukan video call kepada keluarga satu per satu. Setelah itu, ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya dengan berjalan-jalan, makan bersama, hingga berbagi kebahagiaan kecil sebagai pengganti suasana kampung halaman.

Menariknya, pengalaman tidak pulang kampung ini juga membawa perubahan dalam cara pandang mereka terhadap makna Lebaran. Bagi sebagian mahasiswa, Lebaran tidak lagi dimaknai hanya sebagai momen berkumpul secara fisik, tetapi juga sebagai upaya menjaga hubungan dan kebersamaan meskipun terpisah jarak.

Mereka belajar untuk lebih mandiri, mengelola emosi, serta menghargai waktu bersama keluarga yang sebelumnya mungkin dianggap biasa. Pengalaman ini secara tidak langsung membentuk kedewasaan mereka dalam menghadapi berbagai kondisi.

Di tengah keterbatasan yang ada, harapan tetap menjadi hal yang mereka pegang. Para mahasiswa perantau berharap di masa mendatang dapat kembali merasakan Lebaran bersama keluarga di kampung halaman, tanpa terhalang oleh biaya, waktu, maupun tanggung jawab akademik.

Selain itu, mereka juga berharap harga tiket transportasi dapat lebih terjangkau, sehingga tidak menjadi penghalang untuk pulang. Lebaran pun diharapkan tetap menjadi momen kebersamaan yang utuh, baik secara fisik maupun batin, bagi para mahasiswa perantau.

 


Infografis Perbedaan Mahasiswa Perantau Lebaran di Kampung dan di Perantau


 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suasana Tempo Dulu, Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari Gunakan Keping Kayu

Pesona Klasik nan Modern: Rahasia Kehangatan Malam Jumat bagi Sang Pencari Berkah

Pendaftaran GenBI 2026 UPNVJT Ditutup, Ratusan Mahasiswa Mendaftar dan Lolos Tahap 1