Dari Lapangan ke Layar: Beban dan Adaptasi Kader Surabaya Hebat

Penulis: Renata Ardelia

Editor: Shofiyyah

KSH Kelurahan Rungkut Menanggal (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Surabaya - Pagi di salah satu sudut permukiman Surabaya, sejumlah perempuan berompi merah mengetuk pintu rumah warga satu per satu. Mereka adalah bagian dari Kader Surabaya Hebat (KSH), program pemberdayaan ribuan warga yang digagas Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, untuk memantau kondisi sosial hingga kesehatan di tingkat RT dan RW secara langsung.

Di antara ribuan kader itu, ada Ibu Ani Novita (52). Ia telah menjadi bagian dari KSH selama lima tahun, sejak awal program ini berjalan. Bagi Ibu Ani, peran sebagai kader bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari keseharian yang terus berkembang seiring waktu.

“Awalnya hanya pemeriksaan jentik saja. Tapi, sekarang lebih banyak tugasnya, mulai dari posyandu ibu hamil, balita, lansia, sampai kunjungan rutin ke rumah warga setiap minggu,” ujar Ibu Ani.


KSH berinteraksi dengan warga saat kunjungan rutin mingguan sebagai bagian dari pemantauan kondisi sosial dan kesehatan (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Perkembangan itu menandai meluasnya peran kader. Tidak hanya menjalankan fungsi kesehatan lingkungan, mereka juga dituntut untuk memahami kondisi sosial warga secara menyeluruh. Harapan dari pemerintah pun semakin besar, kader diharapkan benar-benar mengenal dan memahami warganya secara dekat.   

Transformasi juga terjadi pada sistem kerja KSH. Jika sebelumnya pencatatan dilakukan secara manual, kini hampir seluruh pelaporan dilakukan secara digital. Ibu Ani mengakui, pada awalnya teknologi ini sempat memicu kebingungan.

“Awal mulai sistem online memang bingung. Tapi setelah ada sosialisasi dan belajar bersama teman-teman yang lain, pelan-pelan jadi terbiasa,” tambahnya.

Namun, proses adaptasi tidak berjalan merata. Sejumlah kader, terutama yang berusia lebih tua, masih mengalami kesulitan dalam penggunaan teknologi dan harus bergantung pada bantuan kader lain. Digitalisasi, yang di satu sisi mempercepat alur pelaporan, di sisi lain menghadirkan tantangan baru berupa kesenjangan kemampuan antarkader.

Di lapangan, tantangan tidak hanya datang dari sisi teknologi, interaksi dengan warga juga menjadi dinamika tersendiri. Tidak semua warga bersikap kooperatif, ada yang menolak kunjungan atau enggan diperiksa kondisi kebersihan rumahnya. Situasi ini menuntut kader untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik serta pendekatan yang persuasif.

“Kesulitan di lapangan adalah warga yang cenderung tertutup, tidak mau rumahnya dikunjungi dan diperiksa,” ujar Ibu Ani.  

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Ibu Ani justru merasakan dampak positif dari perannya sebagai KSH. Ia mengaku hubungannya dengan para tetangga menjadi lebih dekat dibandingkan sebelumnya.

“Sekarang jadi lebih dekat dengan tetangga. Kalau dulu mungkin hanya berbicara seperlunya, sekarang lebih sering berinteraksi karena setiap minggu ada kunjungan,” jelasnya.

Di tengah kehidupan kota yang cenderung individual, peran KSH menjadi sangat signifikan karena mampu menghadirkan kembali ruang interaksi sosial melalui pendekatan dari pintu ke pintu yang tak sepenuhnya bisa digantikan oleh teknologi. Meski kini mereka berdiri di antara tuntutan kedekatan sosial dan keharusan menguasai sistem kerja digital, para kader tetap konsisten menjadi wajah pemerintah yang memahami warga secara langsung di lapangan.

Pada akhirnya, keberadaan KSH membuktikan bahwa kemajuan kota yang serba digital tetap membutuhkan sentuhan manusiawi untuk menjembatani berbagai persoalan warga. Dengan menjalankan fungsi melampaui tugas administratif, para kader ini terus merawat asa dan solidaritas sosial, memastikan bahwa di balik modernitas Surabaya, tidak ada satu pun warga yang merasa berjuang sendirian.

Infografis ini menggambarkan transformasi hingga dampak KSH
(Sumber: Wawancara dengan Ibu Ani Novita) 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suasana Tempo Dulu, Pasar Ndeso Nyi Pandan Sari Gunakan Keping Kayu

Pesona Klasik nan Modern: Rahasia Kehangatan Malam Jumat bagi Sang Pencari Berkah

Pendaftaran GenBI 2026 UPNVJT Ditutup, Ratusan Mahasiswa Mendaftar dan Lolos Tahap 1