Dari Lapangan ke Layar: Beban dan Adaptasi Kader Surabaya Hebat
Editor: Shofiyyah
Di antara ribuan kader itu, ada Ibu Ani Novita (52). Ia telah
menjadi bagian dari KSH selama lima tahun, sejak awal program ini berjalan.
Bagi Ibu Ani, peran sebagai kader bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan
bagian dari keseharian yang terus berkembang seiring waktu.
“Awalnya hanya pemeriksaan jentik saja. Tapi, sekarang lebih banyak
tugasnya, mulai dari posyandu ibu hamil, balita, lansia, sampai kunjungan rutin
ke rumah warga setiap minggu,” ujar Ibu Ani.
Transformasi juga terjadi pada sistem kerja KSH. Jika sebelumnya
pencatatan dilakukan secara manual, kini hampir seluruh pelaporan dilakukan
secara digital. Ibu Ani mengakui, pada awalnya teknologi ini sempat memicu
kebingungan.
“Awal mulai sistem online memang bingung. Tapi setelah
ada sosialisasi dan belajar bersama teman-teman yang lain, pelan-pelan jadi
terbiasa,” tambahnya.
Namun, proses adaptasi tidak berjalan merata. Sejumlah kader,
terutama yang berusia lebih tua, masih mengalami kesulitan dalam penggunaan
teknologi dan harus bergantung pada bantuan kader lain. Digitalisasi, yang di
satu sisi mempercepat alur pelaporan, di sisi lain menghadirkan tantangan baru
berupa kesenjangan kemampuan antarkader.
Di lapangan, tantangan tidak hanya datang dari sisi teknologi,
interaksi dengan warga juga menjadi dinamika tersendiri. Tidak semua warga bersikap
kooperatif, ada yang menolak kunjungan atau enggan diperiksa kondisi kebersihan
rumahnya. Situasi ini menuntut kader untuk memiliki kemampuan komunikasi yang
baik serta pendekatan yang persuasif.
“Kesulitan di lapangan adalah warga yang cenderung tertutup, tidak
mau rumahnya dikunjungi dan diperiksa,” ujar Ibu Ani.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Ibu Ani justru merasakan
dampak positif dari perannya sebagai KSH. Ia mengaku hubungannya dengan para
tetangga menjadi lebih dekat dibandingkan sebelumnya.
“Sekarang jadi lebih dekat dengan tetangga. Kalau dulu mungkin
hanya berbicara seperlunya, sekarang lebih sering berinteraksi karena setiap
minggu ada kunjungan,” jelasnya.
Di tengah kehidupan kota yang cenderung individual, peran KSH
menjadi sangat signifikan karena mampu menghadirkan kembali ruang interaksi
sosial melalui pendekatan dari pintu ke pintu yang tak sepenuhnya bisa
digantikan oleh teknologi. Meski kini mereka berdiri di antara tuntutan
kedekatan sosial dan keharusan menguasai sistem kerja digital, para kader tetap
konsisten menjadi wajah pemerintah yang memahami warga secara langsung di
lapangan.
Pada akhirnya, keberadaan KSH membuktikan bahwa kemajuan kota yang serba digital tetap membutuhkan sentuhan manusiawi untuk menjembatani berbagai persoalan warga. Dengan menjalankan fungsi melampaui tugas administratif, para kader ini terus merawat asa dan solidaritas sosial, memastikan bahwa di balik modernitas Surabaya, tidak ada satu pun warga yang merasa berjuang sendirian.


.jpeg)

Komentar
Posting Komentar